HEADLINE
Febri Bambuena

Globalisasi dan Kecemasan Generasi Muda Terhadap Budaya Lokal

Globalisasi merupakan sebuah ideologi baru sekira sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat. Wacana globalisasi sebagai proses, ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi dan Kecemasan Generasi Muda Terhadap Budaya Lokal

Globalisasi menjadi tantangan untuk semua aspek kehidupan manusia termasuk aspek kebudayaan. Perlu kita ingat bersama, budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Budaya tradisional atau budaya lokal memiliki nilai dan makna tersendiri, sebab itulah budaya lokal sangat penting untuk dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sebab kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat seperti teorinya Herskovits bahwa kebudayaan sebagai suatu yang turun temurun, dari satu generasi ke generasi yang lain, atau biasa disebut “Super Organic”. Globalisasi dan Kecemasan Generasi Muda Terhadap Budaya Lokal

Sedangkan perubahan sosial budaya dan pola budaya dalam suatu masyarakat, berawal dari adanya gejala berubahnya struktur sosial. Ini sudah terjadi sekarang, mulai pudarnya budaya Mongondow di tengah masyarakat terutama generasi muda.

Banyak generasi muda Mongondow saat ini (terutama di Kabupaten Bolaang Mongondow Induk dan Kota Kotamobagu) tidak lagi mengenal bahkan lupa tentang budaya-budaya  Mongondow. Contoh paling mudah kita temui misalnya  secara verbal (bahasa), tak banyak lagi generasi muda sekarang yang tahu (mengucapkan atau menggunakan) bahasa Mongondow dalam kehidupan sehari- hari.

Sebagai alat komunikasi warisan leluhur, bahasa Mongondow (mungkin) telah mengalami degradasi daya pikat sehingga kurang diminati. Ataukah memang generasi muda saat ini yang masa bodoh dan sengaja melupakan warisan ini.

Bahasa Mongondow kini masuk salah satu bahasa ibu yang terancam hilang. Ini tak lepas dari kebiasaan generasi muda sekarang lebih memilih berbahasa Manado ketimbang bahasa Mongondow.

Jika ini terus menerus terjadi, bukan sebuah kemustahilan bila dua puluh tahun atau empat puluh tahun ke depan, bahasa Mongondow akan hilang. Hilang seperti Islam di Andalusia, Spanyol. Dulunya Islam di sini berjaya dan gagah, tetapi kemudian hilang dan musnah dari peta peradaban dan etno dunia.

Pengikisan budaya bukan hanya terjadi secara verbal, akan tetapi terjadi pula di non verbal (tarian dan berpakaian). Zaman modern seperti sekarang, semakin canggihnya teknologi, generasi muda bukannya memperkokoh budaya ke-Mongondowan, malah lupa dan menyerap budaya modern yang ke barat- baratan.

Hampir mayoritas generasi muda tidak lagi mengenal tarian-tarian yang diwariskan nenek moyang. Bahkan makin parah, generasi muda terutama perempuan sekarang tak terlihat lagi menggunakan pakaian adat meski hanya di acara atau kegiatan tertentu. Pilihan pakaian sering dipertotonkan lebih mengandung ketidaksopanan dan mengundang orang lain berbuat jahat.

Cadeko (Maaf) “Calana dekat k*d* seliweran sana-sini. Kata salah satu teman saya yang sama- sama dari Mongondow menuntut ilmu di Makassar “Lambung dia’ no lapat. (Pakaian belum selesai dijahit)”.

Jika ini tak diperhatikan dan tak segera dicarikan solusinya semua pihak; orang tua, tokoh adat, lembaga adat, sekolah, dan pemerintah daerah, bukan hal mustahil budaya dan semua warisan leluhur Mongondow hanya akan menjadi budaya dan sistem nilai yang asing bagi orang Mongondow sendiri di kemudian hari. Tergerus dan hilang dari bumi ini.

Lewat tulisan ini, sebagai generasi muda Mongondow, (mungkin) satu dari sedikit generasi muda yang merindukan adanya pelestarian bahasa, adat, dan budaya Mongondow meminta agar ada keberpihakkan, keterlibatan, dan kepedulian dari semua stakeholder; terutama pemerintah daerah di Bolaang Mongondow Raya (BMR) yakni Kotamobagu, Bolmong, Bolmut, Boltim,dan Bolsel, agar menaruh fokus dan membuat gerakan nyata dalam menjaga dan pelestarian semua budaya Mongondow.  Mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus adalah tanggung jawab kita yang hidup hari ini.

Itu bisa terwujud dengan dua pola pendidikan utama, yaitu pendidikan non formal dan pendidikan formal. Pendidikan non formal adalah dengan pembiasaan dan penerapan nilai-nilai  dalam kehidupan keluarga. Sedangkan pendidikan formal, dengan menjadikan bahasa, adat, dan budaya Mongondow sebagai mata pelajaran atau dimasukan dalam kurikulum setiap jenjang pendidikan. Apalagi undang-undang pendidikan nasional  telah memberikan peluang bagi daerah untuk menciptakan ciri khas pendidikan masing-masing. Karena itu pemerintah bisa menerapkan muatan lokal dalam pendidikan formal yang ada di BMR. Kita semua perlu membangkitkan gairah agar semua warisan leluhur kita eksistensinya tetap terjaga dan jaya di negeri sendiri, tak hilang seperti cerita pernah jayanya Islam di Andalusia. Kita perlu ingat nilai dan eksistensi budaya kita sekarang ini telah sampai pada kata DARURAT!.

Penulis : Febri Bambuena

 

Komentar Facebook

komentar

Berita Lainnya

VIDEO : Ngeri !!! Sosok Mahluk Halus Ikut Upacara Penurunan Bendera HUT RI ke-73 di Bau-Bau, Puluhan Siswa Kerasukan

BMRPost,KOTAMOBAGU-Pengguna internet dikejutkan dengan kejadian kesurupan massal acara penurunan bendera HUT RI Ke-73 di Kamaru …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *