HEADLINE
Danau Buyat Boltim

Perjanjian Manusia dengan Buaya di Buyat

BMRPost-Danau Buyat berada tak jauh dari Desa Buyat Kecamatan Kotabunan,Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Danau seluas sekitar 50 haktar ini hanya beberapa meter dari jalan nasional lingkar selatan Sulawesi. Danau ini menjadi tempat nelayan mencari ikan. Kawasan danau masih tampak alami, pepohonan dan mangrove tumbuh dengan subur,hanya beberapa tambak ditengah danau. Sampan-sampan nelayan berjejer di pesisir danau.

Walau air danau tampak keruh, tapi tak tampak gelombang dan gerakan didalam air. Namun siapa sangka danau yang tenang tersebut menjadi tempat tinggal sejumlah Buaya. Buaya-buaya tersebut menyimpang cerita yang turun temurun diwariskan kepada anak cucu warga Buyat. Ada janji antara Manusia dan Buaya di danau itu untuk tak saling menganggu.

Sesepuh Desa Buyat, Tawakal Paputungan (84) ditemui di rumahnya menceritakan kisah seekor buaya yang memiliki hubungan dengan manusia. “Ada salah satu buaya yang kembarannya dengan manusia. Ini sudah diceritakan turun temurun. Kejadiannya sudah ratusan tahun antara 1700 hingga 1800,” kata pria sepuh tersebut. Sejak kecil dirinya sudah diceritakkan kisah tentang Buaya dan kembaran Manusia, Tegela Tompunu. Peristiwa yang sudah lama terjadi sejak nenek moyangnya namun hingga kini masih menjadi cerita wajib bagi anak cucu. “Setelah dipeliharah, makin lama makin besar. Sehingga ternyata dotu saat itu melepaskan dia (Buaya) ke danau dengan perjanjian.

Jangan menganggu anak cucu manusia yang mencari ikan disini. Kalau mencelakai, maka Buaya akan dimusnakan,” bebernya. Janji itulah yang dipegang hingga saat ini antara manusia dan buaya. Percaya atau tidak hingga saat ini Buaya tak menganggu para warga yang mencari ikan di danau tersebut.

“Padahal disitu sudah banyak buaya, tapi mereka tak menganggu nelayan. Bahkan beberapa kejadian mereka justru menolong manusia. Pernah ada anak-anak yang tenggelam disitu, justru ditolong buaya. Begitupun nelayan tak pernah diganggu buaya,” bebernya. Sepanjang umurnya baru sekali buaya di danau itu menyerang manusia karena diganggu. Peristiwa tersebut terjadi beberapa bulan silam.

Saat seorang warga mencari ikan didanau namun menganggu buaya yang berada didekat jaringnya. “Dia mungkin tak tahu karena bukan asli orang sini, maka buaya menyerangnya. Tapi tak apa-apa. Padahal dengan menegurnya saja, buaya bisa langsung pergi,” jelasnya. Orang mungkin akan menganggap cerita buaya kembaran manusia itu hanya dongeng, Namun baginya punya cerita tersendiri ketika puluhan tahun lalu menjadikan danau tersebut sebagai tempat menangkap ikan. “Buaya-buaya di dalam danau berjari lima seperti manusia berbeda dengan buaya umumnya yang hanya berjari empat. Beberapa bulan lalu ada buaya yang sempat keluar mengikuti sungai. Ditangkap lalu dikembalikan ke danau, jarinya ada lima,” bebernya.

Dia tak mengatahui persis nama Buaya yang memiliki kembaran manusia tersebut. Namun terdapat beberapa buaya yang sudah dinamai warga seperti Buaya puul, Buaya Selempang, Buaya Tembaga, Buaya Makabombong. Buaya itu tak pernah menyerang manusia walau sudah berukuran besar. “Sudah banyak buaya di danau itu, sebab sering nelayan menjaring anak buaya ukuran kecil. Mungkin sudah cucu-cucunya, dulu hingga tahun 70-an. Warga masih melakukan tradisi memberi makan buaya disitu. Sekarang sudah tidak lagi.

Sering ada yang menginjak mereka namun tidak diserangnya,” jelasnya. Sangadi Buyat Induk, Makmun Paputungan mengakui adanya kisah buaya keturunan manusia di Danau tersebut. “Buaya di danau itu jari-jarinya ada lima, dan hingga saat ini tak bukti buaya makan manusia, padahal termasuk binatang buas,” tuturnya. Katanya, Tahun 70-an ada yang menangkap buaya, tak lama kemudian orang tersebut meninggal dunia. “Nelayan disitu sudah tahu, kalau ada buaya dekat jaring atau terjaring. Cukup bilang. Menjauh dari situ, anak cucumu mau mencari ikan. Buaya langsung pergi,” tuturnya.

Dahulu para orangtua hanya dengan memukul tetengkoran bisa menghadirkan buaya untuk diberi makan. “Danau itu bisa dijadikan penangkaran Buaya dan jadi Objek wisata karena tak pernah menyerang manusia selama tak menganggu mereka,” ungkapnya.(Cerita Rakyat)

Komentar Facebook

komentar

Berita Lainnya

Semangat Kemerdekaan, Penambang ini ‘Sulap’ Handuk Jadi Bendera Merah Putih

BMRPost,KOTAMOBAGU-Berbagai hal unik dilakukan masyarakat dalam rangka merayakan kemerdekaan  RI ke-73 pada, Jumat (17/08/18). Mulai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *