HEADLINE
Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan

Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan ?

BMRPost-Ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani. “Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat,” dituturkan Chairun dengan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan Bogani menaungi rakyatnya di antara kaki kiri dan kanannya. (Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan ?)

Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan ? Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani. Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme. Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan. Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga. Yang keempat Mokoanga yang diartikan harus simpatik perilakunya.

Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan ?

Mengenai dua senjata yang digenggam Patung Bogani, diberi nama Tungkudon untuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, digenggaman tangan kanannya. Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw.

Dari posisi Patung, diutarakan oleh Chairun adalah apa yang disebut opat noponulukan atau empat penjuru angin.
“Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudonnya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan.

Mengapa Patung Bogani Condong ke Selatan ? ,Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan. Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari. Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan,” urai Chairun. Ia kembali memantik api dan menyulut rokoknya, untuk melanjutnya cerita.

“Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua, menurut hikayat Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie. Saat ditemukan katanya ada suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang. Semua Bogani berkumpul dan kemudian disepakati bayi tersebut diasuh dan dibesarkan.

Sebab akan menjadi pemimpin nantinya,” tuturnya. Chairun pun mengakhiri perbincangan panjang dengan menyampaikan, budaya-budaya Bolmong beraneka ragam, tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah pun harus diingat, agar generasi bisa memahami, betapa Bolmong ini begitu kaya kebudayaannya dan memiliki sejarah patriotisme yang patut dikenang.

Penulis/Sumber : Kristanto Galuwo

Komentar Facebook

komentar

Berita Lainnya

Kasus Dugaan Pelanggaran UU ITE Berlanjut, Polres Bolmong Surati AH

Kepastian dipanggilnya pemilik akun  Awie Hassan yaitu dengan terbitnya surat panggilan nomor : S.pgl /203/IV/2018/Reskrim, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *