HEADLINE

May Day dan 8 Jam Kerja, 8 Jam Istirahat

BMRPost-Asal muasal dari peringatan Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan sebutan May Day, tidak bisa dipungkiri erat kaitannya dengan sejarah awal mula perjuangan kaum buruh untuk mengurangi jam kerja yang didapatkannya – sesuatu hal yang menjadi salah satu pokok masalah dalam agenda perjuangan politik kaum buruh dan kelas pekerja selama ini. Perjuangan menuntut jam kerja ini sudah lama terjadi dan berlangsung mengakar jauh dalam sejarah, semenjak sistem industrialisasi digalakkan dan lahirlah kaum buruh di Amerika.

Sebagai gambaran pada awal abad ke 19 para kaum pekerja dan buruh di Amerika sudah mengeluhkan akan jam kerja yang sangat panjang dengan pameo “bekerja keras mulai dari matahari terbit sampai dengan matahari tengelam” (bayangkan jika matahari itu terbit pada saat musim semi -pentj.) berlaku setiap hari kerja. 14 (empat belas), 16 (enam belas), bahkan 18 (delapan belas) jam kerja dalam sehari sudah merupakan hal yang biasa terjadi pada saat itu. Pada sebuah peristiwa pengadilan terhadap pimpinan pemogokan dari pekerja pabrik pembuatan sepatu yang dikenai tuntutan berkonspirasi pada tahun 1806, terungkap bahwa para pekerja dan buruh pabrik itu telah diharuskan dan dipekerjakan selama 19 (Sembilan belas) sampai 20 (dua puluh) jam perhari.

Pada kelanjutannya selama kurun waktu tahun 1820 –1830 setelah tahun-tahun peristiwa tersebut berlalu, aksi pemogokan buruh selalu diwarnai dengan tuntutan untuk pengurangan jam kerja, dan menuntut untuk pembatasan 10 jam kerja terjadi di berbagai pusat perindustrian.

Tuntutan 10 jam kerja yang semula bersifat lokal tersebut berkembang menjadi sebuah gerakan, yang walau terkendala dengan adanya krisis yang melanda pada tahun 1837, membuat pemerintahan Federal di bawah Presiden Van Buren mengeluarkan sebuah dekrit yang mengatur pembatasan jam kerja semua pekerja pada proyek milik pemerintahan untuk bekerja selama 10 jam saja perhari. Dan pergerakan untuk menuntut berlakunya pembatasan 10 jam kerja secara menyeluruh di seluruh negeri terus berlanjut selama beberapa dekade selanjutnya.

Demam pengorganisasian buruh pada serikat pekerja pada kisaran tahun 1850, memberikan tambahan dukungan pada tuntutan baru tersebut, tetapi usaha itu terhalang dengan kondisi krisis yang terjadi pada tahun 1857. Walaupun demikian tuntutan tersebut berhasil dimenangkan oleh beberapa Serikat Pekerja yang teroganisir baik pada saat sebelum krisis tersebut berlangsung. Gerakan untuk menuntut pengurangan jam kerja tidak hanya terjadi di Amerika saja, tetapi juga terjadi dimanapun pekerja menderita eksploitasi dari sistem Kapitalisme yang baru mulai berkembang, hal ini bisa dirunut bahwa slogan penuntutan untuk pengurangan jam kerja menjadi 8 jam ternyata juga muncul di tempat yang cukup jauh, yaitu di Australia; “8 jam kerja 8 jam rekreasi 8 jam istirahat” yang berhasil dicapai pada tahun 1856 di Australia.

Gerakan 8 jam kerja yang kemudian melahirkan May Day, bisa dilacak pada gerakan yang berlangsung di Amerika pada tahun 1884. Patut dicatat pula sumbangsih kemenangan oleh generasi gerakan buruh sebelumnya yang telah berhasil dan memberikan dasar bagi sebuah gerakan buruh yang lebih militan yang menjadi jantung perorganisiran di dalam kelas masyarakat pekerja di Amerika, yang mengusung isu tentang pengurangan jam kerja dan mengorganisirnya menjadi suatu gerakan yang lebih massif. (WP)

Komentar Facebook

komentar

Berita Lainnya

Rusdi Gumalangit Sebut Cherish Harriette Layak Wakili Generasi Muda di Pusat

BMRPost,BOLTIM – Minggu, (14/10) Wakil Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Rusdi Gumalangit manghadiri penutupan Grass …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *